GAMBARAN
PERAN DUKUN BAYI DI WILAYAH DESA KAMBOJA KECAMATAN PULAU MAYA KABUPATEN KAYONG UTARA
PROPOSAL
Diajukan Untuk Melengkapi
Sebagian Persyaratan Menjadi
Sarjana Kesehatan Masyarakat
(SKM)
Oleh:
HERIYADI
NPM : 101510672
PROGRAM STUDI KESEHATAN
MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PONTIANAK
TAHUN 2015
PENGESAHAN
Dipertahankan di Depan Dewan Penguji
Proposal
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak
dan
Diterima Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)
Pada Tanggal, November
2015
Dewan Penguji:
1.
Drs.H.
Mardjan,M.Kes ..........................................
2.
Rahayu
Budi Utami, S, SIT.M.Kes ..........................................
3.
Abduh
Ridha, SKM, M.PH ..........................................
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PONTIANAK
DEKAN
Indah Budiastutik, SKM.,M.Kes
NIDN.1102018001
PROPOSAL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)
Peminatan Promosi
Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Oleh :
HERIYADI
NPM.101510672
Pontianak, November 2015
Mengetahui,
Pembimbing
I
Pembimbing
II
Drs.H.Mardjan, M.Kes Rahayu
Budi Utami, S, SIT, M.Kes
NIDN.0026075408 NIDN.4016125602
PERNYATAAN KEASLIAN PROPOSAL
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam proposal
ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Segala proses dalam
penyusunan proposal saya jalankan melalui prosedur dan kaidah yang benar serta
didukung dengan data-data yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.
Jika di kemudian hari
ditemukan kecurangan, maka saya bersedia untuk menerima sanksi berupa
pencabutan hak terhadap ijazah dan gelar yang saya terima.
Demikian surat pernyataan
ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
|
Pontianak, November 2015
(HERIYADI)
NPM. 101510672
|
Moto
dan Persembahan
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا
مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ
خَبِيرُُArtinya :
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)
فَإِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS.
Alam Nasyroh: 5)
Dan bahwasanya seorang manusia
tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu
kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya
dengan balasan yang paling sempurna. Dan kepada Tuhanmulah kesudahan (segala
sesuatu). (QS. An-Najm: 39-42).
Karya ini kupersembahkan untuk:
v
Orang tuaku Ayahnda Ahmad dan Ibunda Nurjanah yang telah menjadi
penyemangat setiap perjuanganku, menjadi penguat setiap kelemahanku, menjadi
motivasi utamaku dalam menyelesaikan skripsi ini, serta do’a-do’a disetiap
shalatnya yang tak henti-hentinya dipanjatkan untuk keberhasilanku.
v
Adik –adikku (Eka Satria, Arizki Attaqwa) yang selalu menjadi
penyemangat disetiap langkah-langkahku.
v
Sahabat-sahabatku “Lohjinawi Grup” (Bagus Fendi Kusuma, Teguh
Afriansyah, Iskandar, Leo dan Corly )yang senantiasa menemani hari-hariku
selama 5 tahun ini dalam suka dan duka, serta selalu saling memberikan semangat
dan motivasi.
.
BIODATA PENULIS
Nama
: Heriyadi
Tempat,
Tanggal Lahir : Kamboja, 24 September 1991
Jenis
Kelamin : Laki-laki
Agama
:
Islam
Nama
Orang Tua
Ayah :
Ahmad
Ibu : Nurjanah
Alamat :Desa
Kamboja Kabupaten Kayong Utara
JENJANG PENDIDIKAN
SD : SDN 04 Kamboja (1998-2004)
SMP : MTS
Al-BAITUL ATIIQ Ketapang (2004-2007)
SMA : MAS
AS-SALAM (2007-2010)
KATA
PENGANTAR
Segala puji syukur senantiasa kami panjatkan
kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan proposal skripsi yang berjudul “Persepsi Ibu Hamil dalam Pemilihan Persalinan di
Wilayah Kerja Puskesmas Kamboja Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara”. Penyusunan Proposal ini bertujuan untuk
memenuhi syarat dalam menyelesaikan pendidikan sebagai Sarjana Kesehatan
Masyarakat di Universitas Muhammadiyah Pontianak.
Dalam Penyusunan Proposal ini penulis
mendapatkan bimbingan, arahan serta bantuan dari berbagai pihak. Penulis
menyadari sepenuhnya bahwa tanpa dukungan dan bantuan dari semua pihak Proposal
ini tidak akan terwujud, untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1.
Bapak
H. Helman Fachri,SE.,MM selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Pontianak.
2.
Ibu
Indah Budiastutik,SKM.,M.Kes selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Pontianak.
3.
Bapak
Drs.H. Mardjan,M.Kes selaku dosen Pembimbing I atas ilmu, motivasi, semangat
dan waktu yang selalu diberikan dalam memberikan bimbingan.
4.
Ibu Rahayu
Budi Utami, S,Sit, M.Kes selaku
Dosen Pembimbing II atas bimbingan, arahan dan masukan serta waktu luang yang
selalu diberikan.
5.
Seluruh
Dosen beserta staff Universitas Muhammadiyah Pontianak yang telah membekali
penulis dengan ilmu selama perkuliahan dan membantu dalam kelancaran proposal
ini.
6.
Kedua
orang tua, adik serta keluarga yang telah memberi doa restu, motivasi,
semangat, nasehat dan dukungan materi kepada penulis.
7.
Rekan-rekan
satu angkatan di prodi kesmas, yang telah banyak mengisi waktu bersama dengan
penuh keakraban selama menjalani proses belajar di program studi ini, serta
telah banyak membantu penulis selama masa pendidikan.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Proposal
ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan masukan dan saran untuk
lebih menyempurnakan Proposal ini. Semoga Proposal ini bermanfaat bagi kita
semua. Akhir kata saya ucapkan terima kasih.
Pontianak,
November 2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL. …………………………………………………………....... i
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... .. ii
HALAMAN PERSETUJUA ………………..…………………………………. iii
PERNYATAAN KEASLIAN PROPOSAL. …………………………………… iv
MOTO DAN PERSEMBAHAN………………………………………………...v
BIODATA PENULIS..................................................................................... …. vi
KATA PENGANTAR.. ………………………………………………………….vii
DAFTAR ISI. …………………………………………………………………….ix
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang............................................................................................. 1
1.2 Fokos
Penelitian…………………………………………………………...10
1.3 Rumusan Masalah..................................................................................... 10
1.4 Tujuan Penelitian........................................................................... ………
10
I.4.1. Tujuan Umum ……………………………………………………...10
I.4.2. Tujuan Khusus ……………………………………………………..10
1.5 Manfaat Penelitian.................................................................................... 11
I.5.1 Bagi Instansi
Terkait………………………………………..11
I.5.2 Bagi Fakultas Ilmu Kesehatan
Masyarakat…………………11
I.5.3 Bagi Masyarakat…………………………………………….11
I.5.4 Bagi peneliti…………………………………………………11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Pengertian Persepsi........................................................................... 13
II.I.1 Bentuk
Persepsi...................................................................... 13
II.1.2 Organisasi Perseptual............................................................. 14
II.1.3 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi..................... 15
II.1.4 Pemilihan Persalinan Ke Dukun Bayi……………………….17
II.2. Teori- Teori Perilaku....................................................................... 18
II.2.1 Teori Determinan Perilaku ................................................... 18
II.2.2 Perubhan Perilaku................................................................. 19
II.3. Hubungan Persepsi dengan Perilaku................ …………………….23
II.4. Aspek Sosial Budaya yang Berhubungan dengan
Perilaku Kesehatan.......................................... ………………………………………………...24
II.5 Persepsi Budaya Terhadap Kehamilan dan
Persalinan ................... .27
II.6 Pengertian Persalinan ................ ……………………………………31
II.7 Penolong Persalinan................. …………………………………….. 32
II.7.1 Peran dan Tanggung Jawab Bidan Dalam Asuhan
Kehamilan dan Persalinan .......................................... ……………………………………………. 33
II.7.2 Tenaga Bukan Kesehatan (Dukun Bayi)……………………..34
II. 8 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Ibu Dalam
Pemilihan Penolong Persalinan……………………………………………..……………..35
II.8.1 Pendidikan Ibu………………………………………………..35
II.8.2 Pengetahuan
Ibu……………………………………….……..36
II.8.3 Persepsi………………………………….……………………37
II.8.4 Kemampuan
Ekonomi………………………..……………….42
II.8.5 Kebiasaan Ibu………………..……………………………….43
II.8.6 Keterjangkauan
Sarana Kesehatan…………….……………...43
II.9 Aspek
Sosio-Psikologi Perilaku Kesehatan………………………….44
II.Persepsi
Kepercayaan…………….……………………………………45
II.11 Persepsi
Keyakinan…………….…………………………………..46
II.12 Kerangka
Teori………………………………..……………………47
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Kerangka Konseptual...................................................................... 49
III.2 Jenis
Penelitian……………………………………………………..49
III.3 Tempat dan Waktu Penelitian……………………………………...50
III.3.1. Tempat
Penelitan ………………………………………….50
III.3.2. Waktu Penelitian ………………………………………….50
III.4 Instrumen Penelitan ……………………………………………….50
III.5 Sampel Sumber Data. ……………………………………………...51
III.6 Teknik Pengumpulan Data.............................................................. 52
4.1 Teknik Analisis Data. …………………………………………………….53
4.2 Pengujian Keabsahan
Data........................................................................ 54
4.3 Triangulasi Sumber.................. …………………………………………..54
4.4 Triangulasi Teknik………………………………………………………..55
4.5 Triangulasi Waktu………………………………………………………..55
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka
Teori................................................................................ 47
Gambar 3.1 Kerangka
Konsep............................................................................ 49
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Instrumen Penelitian (Kuesioner)
Lampiran 2 Surat Izin Pengumpulan Data Proposal Skripsi
Lampiran 3
Dokumentasi Survei Pendahuluan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LatarBelakang
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan
pengeluaran bayi cukup bulandisusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput
janin dari tubuh ibu (Erawati, 2010).Periode persalinan merupakan salah satu
periode yang mengandung risiko bagi ibu hamil apabila mengalami komplikasi yang dapat
meningkatkan risiko kematian ibu dan kematian bayi (Hasibuan, 2013).
Salah satu faktor yang melatarbelakangi tingginya angka kematian
ibu adalah proses persalinan yang berhubungan dengan pemilihan pertolongan persalinan.
Tidak semua ibu hamil melakukan proses persalinan di sarana pelayanan kesehatan
tetapi banyak juga menggunakan pertolongan dukun bayi (Setyawati
dan Alam, 2010).
Dilihat dari kesehatan ibu dan anak maka persalinan yang
ditolong oleh tenaga kesehatan seperti bidan dan dokter dianggap lebih baik
dari pada persalinan yang ditolong oleh tenaga non kesehatan seperti dukun,
keluarga atau lainnya. Masalah yang dihadapi adalah bahwa pada kenyataannya
pertolongan persalinan oleh dukun bayi memang masih merupakan pilihan
pertolongan yang diminati oleh masyarakat (Asriani, 2009)
|
1
|
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
tahun 2013, menunjukkan bahwa persalinan di fasilitas kesehatan baru mencapai
70,4%, dan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan baru mencapai
87,4%Hal ini, menunjukkan bahwa sekitar 12, 6% persalinan masih ditolong dukun.
Secara nasional, indikator kinerja cakupan persalinan pada tenaga kesehatan
tahun 2013 belum dapat mencapai target Rencana Strategis (Renstra) Kementerian
Kesehatan tahun yang sama, yakni sebesar 89% (Kemenkes RI, 2014).
Penelitian yang dilakukan Rina Anggorodi
(2009)Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa apabila persalinan
ditolong oleh bidan biayanya mahal
sedangkan bila ditolong
oleh dukun bisa
membayar berapa saja.
Hal yang terpenting
adalah bahwa dukun
dilihat mempunyai ’jampe-jampe’
yang kuat sehingga
ibu yang akan
bersalin lebih tenang
bila ditolong oleh
dukun.
Sudirman dan Jamaluddin(2011) menunjukan
bahwa ada hubungan kemitraan dengan dukun
terhadap ibu yang melahirkan
dengan proporsi sebesar 76 %, sedangkan dalam bagi hasil antara bidan
dan dukun dalam bagi hasil (upah) sebesar 89
%, bahwa bidan dan
dukun bayi sudah sebagian
besar telah melakukan kemitraan
dengan baik. Melihat angka propors tersebut, namun ada bidan dan
dukun bayi juga
melakukan kemitraan dalam
hal melakukan kunjungan ke rumah dukun dengan proporsi 47,12%.
Siswati, dkk (2009) menunjukan bahwa ada
hubungan Jumlah persalinan yang terjadi periode tahun 2008 di Bumijawa adalah
718 persalinan yang terdiri dari
453 persalinan ditolong
oleh tenaga kesehatan dan
265 persalinan ditolong oleh tenaga
non kesehatan (dukun).
Buyandaya, dkk (2012) menunjukkan bahwa
dari 126 responden yang berpengetahuan cukup, 57,9% memilih tenaga
kesehatan (NAKES) sebagai penolong
persalinannya dan dari 123 responden yang berpengetahuan
kurang,55,5% memilih sebagai penolong persalinannya. Dari hasil uji
statistic dengan Chi Square memperlihatkan nilai p value = 0,008. Untuk
variable budaya, dari 115 responden yang tidak berpengaruh dengan budaya, 53,9%
memilih non nakes sebagai penolong persalinannya dari 134 responden yang
berpengaruh dengan budaya, 76,1%
memilih tenaga non
nakes sebagai penolong persalinan.
Di Indonesia pertolongan persalinan yang masih belum
sesuai target yang diberikan oleh pemerintah menjadi salah satu masalah yang
terjadi dibeberapa daerah, salah satunya di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).
Meskipun mengalami peningkatan pada
tahun 2013, akan tetapi cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun
2014 kembali mengalami penurunan. Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi (Kalbar).
cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2012 sebesar 86%, tahun 2013
sebesar 87,86% dan tahun 2014 sebesar 86,65% (Profil Dinas Kesehatan Provinsi,
2013).
Berdasarkan Laporan Kematian Ibu (LKI)
Kabupaten Kayong Utara tahun 2008 AKI sebesar 688 per 100.000 KH, tahun 2009 sebesar 579 per
100.000 KH, tahun 2010 sebesar 206 per 100.000 KH dan AKI di Kabupaten Kayong
Utara tahun 2011 sebesar 294 per 100.000 KH sedangkan pada tahun 2012 sebesar
320 per 100.000 KH. Bila di bandingkan dengan target MDGs sebesar 102 per
100.000 kelahiran hidup, maka kondisi tersebut menunjukan masih tingginya
kematian ibu di Kabupaten Kayong Utara (Profil kesehatan Kabupaten Kayong
Utara, 2013).
Desa Kamboja mempunyai
tiga dusun yaitu Suka Mandi, Suka Tengah dan Suka Maju yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Pulau Maya Kabupaten
kayong Utara.Warga di Desa Kamboja selain memanfaatkan pelayanan kesehatan
modern seperti bidan dan perawat dalam penanganan persalinan ternyata jugamasih
memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional
yaitu dukun bayi. Dukun bayi yang ada di desa kamboja telah menjalin kemitraan
dengan bidan dan perawat (Puskesmas
Kamboja, 2012, 2013 dan 2014).
Jalinan kemitraan
dukun dan bidan tahun 2013 5 orang, sedangankan pada tahun 2014 yang bermita
meningkat menjadi 6 orang.Dukun bayi tidak diperbolehkan lagi untuk menolong
persalinan karena pertolongan persalinan harus dilakukan oleh tenaga
kesehatan.Peran dukun bayi hanya sebatas melakukan perawatan ibu dan bayi pada
masa nifas meliputi mengurut ibu dan bayi, perawatan tali pusat,
memandikan bayi serta memberikan jamu untuk si ibu dengan tujuan untuk
memperlancar ASI (Puskesmas Kamboja,
2012, 2013 dan 2014).
Berdasarkan hasil wawancara dilakukan degan Dukun, Bidan dan Ibu
yang Pernah bersalin di Desa Kamboja
Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara, hasil wawancara pendahuluan
sebagai berikut :
1)
Jawaban sebagai berikut
menurut ibu Suriana 39 tahun :
“Saya tau peran
dukun bayi membantu bidan bukan menolong persalinan, saya juga menghormmati
istiadat Pulau Maya, Biayaye dukun dak ade cume ngasi’ kain dan ucapan teerimakasih,
sedangkan bidan tige ratus ribu sampai satiu jutaan, saya memilih
dukunkarena dukun tau mengurut-urut dari kehamilan sampai 25 atau 44 hari. Dalam
kehamilan di urut-urut, di kasi jamu kampong.Bidan cume nyuntik jak hari
pertame melahirkan, dukun dari hamil satu bulan, tige bulan, tujuh bulan sampai
melahirkan.
2)
Selanjutnya menurut ibu
Nur 42 tahun :
“persalinan dengan ibu Milan atau biase disebut dukun bayi
saye dak tau peran dukun tapi istiadat kami mengutamakn dukun karne ade
jampi-jampinye bise mempermudahkan persalinan, biaye persalinan samebidan sekitar tige ratus ribu samapi sejuta same obat-obat nye. Kalau dukun gratis sejak kehamilan dengan
dukun diurut sampai melahirkan bayi, setelah melahirkan dukun merawat sampai 40
hari lagi.
3)
Senada dengan ibu Durajak
29 tahun menyatakan :
“Saye dak tau
peran dukun bayi yang saye tau dukun juga boleh menolong melahirkan, adat kami
pun kental dukun selain mempunyai jampi-jampi dukun juga merawat ibu dan anak
sampai 40 hari lepas melahirkan, melakukan persalinan di rumah dengan dukun
bayi geratis
diurut
sejak kehamilan bulan pertama, pernah juga ke posyandu satu bulan satu kali
sampailah dekat mau melahirkan, dengan dukun diurut-urut (dipijat) setelah itu
minum air pereya’ (pare). Jika dengan bidan biayanye sekitar satu jutaan.
4)
Sedangkan dukun bayi ibu
Milan 60 tahun menyatakan sebagai berikut :
“Saye dak tau peran dukun, Sudah sejak 6 tahun menjadi dukun bayi sudah menjadi turun
menurun dalam menolong persalinan pernah
1 kali kecelakaan tapi meninggal dalam
perut ibu yang melahirkan sudah satu hari satu malam meninggalnye, peertolongan
oleh dukun adalah budaya di desa sini, saye menolong dak minta imbalan gratis
kadang gak ade orang sedekah kain jak saye ambil, orang memilih saye menolong
mungikn karene dekat dan gratis lah gtu.
5)
Pendapat bidan Masitah 25
tahun mengenai dukun bayi sebagai berikut :
“Kalau dikatakan kehamilannya beresiko dengan dukun, dia nggak mau lagi
datingke kita dan mencari dukun trus dalam menolong. Bila teman kita juga mengatakan ibu ituberesiko, dia akan lari
ke dukun, dukun sangat beperan dimasyarakat sini, dukun juga
banyak tau adat istiadat, status ekonomilah membuat masyarakat minta tolong
dukun dikarenakan gratis, ibu memilih dukun merawat dari kehamilan sampai 40
hari setelah melahirkan karna dukun sangat dekat dengan masyarak.
1.2 RumusanMasalah
Kejadian peran dukun bayi pada ibu hamil maupun persalinan sebanyak 5 orang
pada tahun 2013, sedangkan pada tahun 2014 dukun bayi bertambah menjadi 6 otang
di Puskesmas Kamboja Kecamatan Pulau Maya
Kabupaten Kayong Utara.
Hasil survey pendahuluan kepada 4 ibu yang telah melalui persalinan di wilayah
kerja Puskesmas Kamboja semua ibu melahirkan dengan pertolongan dukun bayi.
1.3 Tujuan
Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Peran
Dukun Bayi dalam Persalinan di Wilayah Kerja
PuskesmasKambojaKecamatanPulauMayaKabupatenKayongUtara.
1.3.2
Tujuan Khusus
1.
Untuk
mengetahui umur ibu bersalin
2.
Untuk mengetahuiPendikan ibu bersalin
3.
Untuk
mengetahui pekerjaan ibu bersalin
4.
Untuk
mengetahui pendapatn keluarga
5.
Untuk
mengetahui pengetahuan tentang persalinan
6.
Untuk
mengetahui budaya/adat-istiadat setempat
7.
Untuk
mengetahui status ekonomi ibu yang bersalin
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan
dari beberapa uraian diatas maka manfaat dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
I.4.1. Secara
teoritis hasil penelitian ini diharapkan sebagai ilmu pengetahuan bagi peneliti
dan masyarakat pada umumnya sehingga dapat dijadikan sebagai bacaan, ataupun
sebagai bahan acuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khsusnya pada
persalinan.
I.4.2. Secara praktis penelitian ini diharapkan berguna:
1.
Bagi Puskesmas, sebagai referensi untuk memperluas
wawasan tentang karakteristik dan tujuan dari peran dukun bayi dalam persalinan
di wilayah kerja puskesmas kamboja
kecamatan pulau maya kabupaten kayong utara..
2.
Bagi Peneliti, Dapat meningkatkan kemampuan di bidang penelitian serta
melatih kemampuan analisis peneliti,hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi terhadap peran
dukun bayi dalam persalinan di wilayah
kerja puskesmas kamboja kecamatan pulau maya kabupaten kayong utara.
3.
Bagi masyarakat, hasil peneltian diharapkan dapat menambah informasi
tentang peran dukun bayi dalam persalinan di
wilayah kerja puskesmas kamboja kecamatan pulau maya kabupaten kayong
utara.
4.
Bagi Dinas Kesehatan, sebagai masukan dan bahan kepustidakaan untuk melakukan
penelitian sejenis yang memberikan imformasi khususnya tentangperan dukun bayi
dalam persalinan di wilayah kerja
puskesmas kamboja kecamatan pulau maya kabupaten kayong utara.
I. 5 KeaslianPenelitian
|
No
|
Judul
|
Penulis
|
Rancangan Penelitian
|
Penjelasan
|
Variabel
|
|
1.
|
Dukun Bayi dalam Persalinan oleh Masyrakat Indonesia
|
Rina Anggorodi(2009)
|
Kualitatif
|
Hasil
penelitian bahwa adanya dukun bayi
perempuan dan lelaki sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia.
|
1. Dukun bayi
yang melakukan dan belum melakukan kemitraan.
2. Bidan yang
melakukan dan belum melakkan kemitraan.
3. Ibu yang
melahirkan ditolong oleh dukun bayi dan ibu melahirkan oleh bidan.
|
|
2.
|
Kemitraan Bidan dengan Dukun
Bayi dalam Menolong Persalinan Bagi Ibu-ibu yang Melahirkan di Pedesaan di
Kecamatan Palolo Kabupaten Donggala.
|
Sudirman dan Jamaluddin Sakung
(2011)
|
Kualitatif
|
Hasil penelitian bahwa masyarakat
lebih senang di tolong oleh dukun bayi di pedesaan di Kecamatan Palolo
Kabupaten Donggala.
|
1.Kesamaan dan perbedaan persepsi tentang pertolongan Persalinan
2.Upaya yang dilakukan oleh bidan desa dengan dukun bayi dalam
menjalin kemitraan
3.Mengidentifikasi masalah masalah yang menjadi hambatan dalam
menjalin kemitraan antara bidan di desa (BDD) dengan Dukun.
|
|
3.
|
Perspektif Pertolongan Persalinan Oleh Dukun Bayi di Desa
Bumijawa Kecamatan Bumijawa Kapuaten Tegal.
|
Siswati, dkk (2009)
|
Kualitatif
|
Hasil penelitian bahwa 9
desa menjadi lokasi penelitian di Desa Bumijawa Kecamatan Bumijawa Kabupaten
Tegal.
|
1.
Mengetahui persepsi ibu tentang
persalinan
2.
Tentang tenaga penolong persalinan
3.
Tentang dukun bayi
4.
Alasan ibu memilih dukun bayi
dalam menolong persalinan
5.
Persepsi dukun bayi tentang
tenaga penolong persalinan
6.
Persepsi dukun tentang
kemampuan dukun dalam menolong persalinan
7.
Persepsi dukun bayi tentang
kemampuan dukun bayi dalam menolong persalinan
8.
Yang dilakukan dukun bayi
selama membantu proses persalinan
|
|
4.
|
Paktor
Determinan Pemilihan Tenaga Penolong Persalinan di wilayah kerja Puskesmas
Palasa Kabupaten Parigi Moutong.
|
Buyandaya, dkk (2012)
|
Kuantitatif
|
Hasil penelitian bahwa
ada pengaruh Pemilihan Tenaga Penolong Persalinan di wilayah kerja
Puskesmas Palasa Kabupaten Parigi Moutong.
|
1.
Pengetahuan
2.
Pelayanan atenatal
3.
Kepercayaan pada pelayanan
atenatal
4.
Sosial budaya
5.
Sosial ekonomi
|
Beberapa hal yang membedakan penelitian ini dengan
penelitian sebelumnya adalah sebagai
berikut:
1.
Variabel
penelitian yang dikorelasikan terdiri dari 3 macam diantarnya adalah faktor
predisposing, faktor enabling, dan faktor reinforcing.
2.
Sampel, tempat
dan tahun penelitian yang dilakukan juga berbeda dengan penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya.
3.
Penelitian ini
memfokuskan pada dukun bayi di dwilayah kerja Puskesmas Kamboja Kecamatan Pulau
Maya Kabuapen Kayong Utara.
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
II.1 Pengertian Dukun Bayi
Dukun bayi merupakan salah satu bagian yang cukup besar
pengaruhnya dalam menentukan status kesehatan ibu dan bayi, karena sekitar 40%
kelahiran bayi diIndonesia dibantu oleh dukun bayi.Keadaan ini semakin
diperparah karena umumnya dukun bayi yang menolong persalinan tersebut bukan
dukun terlatih, (Ahid, 2009).
Masih banyaknya pengguna jasa
dukun disebabkan beberapa faktor yaitu lebih mudahnya pelayanan dukun
bayi, terjangkau oleh masyarakat baik dalam jangkauan jarak, ekonomi atau lebih
dekat secara psikologi, bersedia membantu keluarga dalam berbagai pekerjaan
rumah tangga serta berperan sebagai penasehat dalam melaksanakan berbagai
upacara selamatan (Manuaba, 1998). Setyawati, 2010 mengemukakan bahwa dukun
dipercaya sebagai aktor lokal yang dipercaya oleh masyarakat sebagai tokoh
kunci terutama yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan (Purnawati,
2012).
Menurut Bertens (2005) dalam
Rochayah (2012) dukun didefinisikan sebagai seseorang yang mengobati pasien
tanpa dapat membuktikan statusnya sebagai dokter dengan menunjukkan ijazah yang
diakui oleh negara. Purwoastuti dan Walyani (2015) membagi dukun bayi menjadi 2
(dua), yaitu:
1.
|
11
|
2.
Dukun
bayi tidak terlatih: ialah dukun bayi yang belum pernah dilatih oleh tenaga
kesehatan atau dukun yangdilatih dan belum dinyatakan lulus (Rochayah, 2012).
Dukun bayi adalah gabungan dari dua kata, yakni dukun dan bayi.
Masing-masing kata ini mengandung makna yang berbeda satu sama lainnya, namun
keduanya memiliki hubungan yang sangat erat sehingga penggabungan kedua kata
tersebut membentuk suatu kesatuan pemahaman yang tidak dapat dipisahkan. Dukun
bayi di Pulau Maya sangat di percayai masyarakat dan berpengaruh terhadap
masyarakat, dari kepercayaan dan keyakinan masyarakatlah dukun bayi bisa
membantu persalinan yang didampingi bidan desa tetapi bukan menolong
persalinan.
Selain mudahnya pelayanan dukun bayi di wilayah kerja Puskesmas
Desa Kamboja Kecamatan pulau maya Kabupaten Kayong Utara, mudah ditempuh,
murah, lebih dekat secara psikologi dan dukun juga bersedia membantu dalam
pekerjaan melayani ibu yang melahirkan dan serta mendoakan dalam upacara
selamatan. Dukun bayi adalah seorang anggota masyarakat pada umumnya seorang
wanita yang mendapat kepercayaan serta memiliki keterampilan dalam menolong
persalinan secara tradisional dan memperoleh keterampilan tersebut dengan
secara turun temurun, belajar secara praktis atau dengan cara lain yang
menjurus kearah peningkatan keterampilan dalam menolong persalinan.
Dimaksud dukun yang mengobati pasien tanpa dapat
membukikan dengan ijasah seperti bidan dan dokter yang diperbolehkan menangani
ibu hamil, Sedangkan di wilayah kerja Puskesmas Desa Kamboja dukun bayi yang
dilatih masih sangat sedikit tetapi yang tidak terlatih juga banyak belum
semuanya mendapat perlatihan.Dukun terlatih adalah dukun yang telah mendapatkan
latihan oleh tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus. Sedangkan dukun tidak
terlatih adalah dukun bayi yang belum pernah dilatih oleh tenaga kesehatan atau
dukun bayi yang sedang dilatih dan belum dinyatakan lulus. Peranan dukun
beranak sulit ditiadakan karena masih mendapat kepercayaan masyarakat dan
tenaga terlatih yang masih belum mencukupi. Dukun beranak masih dapat
dimanfaatkan untuk ikut serta memberikan pertolongan persalinan.
II.2 Peran Dukun Bayi di Indonesia
Peran dukun Banyi di
Indonesia Pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 741
tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di
Kabupaten/Kota. Didalamnya terdapat 4
indikator pelayanan kesehatan ibu, yaitu: cakupan kunjungan ibu hamil K4
(minimal empat kali selama kehamilan), cakupan komplikasi kebidanan yang
ditangani, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan(Khasanah, 2011).
Masyarakat mengunakan jasa dukun disebabkan
beberapa faktor yaitu lebih mudahnya pelayanan dukun bayi, terjangkau oleh
masyarakat baik dalam jangkauan jarak, ekonomi atau lebih dekat secara
psikologi, bersedia membantu keluarga dalam berbagai pekerjaan rumah tangga
serta berperan sebagai penasehat dalam melaksanakan berbagai upacara selamatan
(Purnawati, 2012).
Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih
diberlakukan juga pada masa nifas. Pantangan ataupun anjuran ini biasanya
berkaitan dengan proses pemulihan kondisi fisik. Misalnya, ada makanan tertentu
yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI, ada pula makanan
tertentu yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi.Secara
tradisional, ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk
mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu (Khasanah, 2011).
Pada kasus persalinan, dukun tidak hanya berperan saat proses
tersebut berlangsung, namun juga pada saat upacara-upacara adat yang dipercaya
membawa keselamatan bagi ibu dan anaknya seperti upacara tujuh-bulanan
kehamilan sampai dengan 40 hari setelah kelahiran bayi. Aktivitas ini tentunya
tidak sama dengan apa yang dilakukan bidan sebagai tenaga paramedis dan hal ini
juga lah yang membuat dukun memiliki tempat terhormat dan kepercayaan yang
tinggi di masyarakat, (Purnawati, 2012).
Misalnya, mengurut perut yang bertujuan
untuk mengembalikan rahim ke posisi semula, memasukkan ramuan-ramuan seperti
daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan
yang keluar karena proses persalinan, atau memberi jamu tertentu untuk
memperkuat tubuh (Khasanah, 2011).
yang memiliki kompetensi kebidanan bukan
dukun bayi serta di wajibkan dukun mengikuti bidan tidak di perbolehkan
menolong sendiri dan cakupan pelayanan nifas sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan nomor 741 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan di Kabupaten/Kota. Peran dukun dalam pertolongan persalinan dalam
Pedoman Kemitraan Bidan dengan Dukun adalah sebagai berikut:
1)
Mengantar
calon ibu bersalin ke Bidan
2)
Mengingatkan keluarga menyiapkan alat
transportasi untuk pergi ke bidan atau memanggil bidan
3)
Mempersiapkan
sarana prasarana persalinan aman seperti air bersih dan kain bersih
4)
Mendampingi ibu pada saat persalinan
5)
Membantu bidan pada saat proses persalinan
6)
Melakukan ritual keagamaan/tradisional yang
sehat yang sesuai tradisi setempat
7)
Membantu
bidan dalam perawatan bayi baru lahir
8)
Membantu
ibu dalam inisiasi menyusui dini kurang dari 1jam
9)
Memotivasi
rujukan jika diperlukan
10) Membantu bidan membersihkan ibu, tempat dan
alat setelah persalinan.
Dukun
bayi untuk daerah yang terpencil sulit dalam akses terhadap pelayanan kesehatan
seperti puskesmas, maka masyarakat banyak memilih dukun bayi untuk menangani
persalinan ibu yang hamil hingga smapai 40 hari setelah melahirkan. jasa dukun
bayi yang masih bertahan dan tetap digunakan dalam hal ini pada proses
persalinan atau kelahiran, meskipun dukun bayi tidak memiliki keahlian medis
serta dalam prakteknya masih menggunakan cara-cara tradisional yang secara
turun-temurun dilakukan.
Didaerah
terpencil atau daerah yang jauh dari akses ke Puskesmas untuk melahirkan
kebidan atau sebaliknya bidan datang kerumah masyarakat, dikarenakan jaraknya
sangat jauh atau dimusim ujan kondisi jalan tidak memungkinkan becek, sedangkan
dalam kehamilan ibu banyak pantanggan seperti di daerah terpencil desa kamboja kecamatan pulau maya kabupaten
kayong utara ibu hamil tidak boleh menyebrangi lautan, memakan nenas dan yang
mengakibatkan ibu keguguran.
Dukun
bayi mendpatkan penghormatan dan dipercaya masyarakat dalam menolong ibu
bersalin, setelah menolong dalam persalinan dukun juga dipercaya terhadap
upacara adat keselamatan bagi ibu dan anaknya hinga mencapai 40 hari. bahwa
perilaku ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas berbeda-beda, respon
masyarakat yang bersifat budaya terhadap fenomena kelahiran bayi ditunjukkan
sejak mulai terbentuknya janin sampai melahirkan.
Tindakan
seperti diatas tidak boleh dilakukan karna berbahaya bagi ibu dan bayi yang
akan dilahirkan, dan dibolehkan memberi ramuan jamu selain untuk memperkuat
tubuh membantu dalam menghilangkan rasa sakit dan lain-lain
kegunaannya.Respon-respon tersebut mempunyai tindakan yang baik maupun yang
buruk terhadap kesehatan bayi dan ibunya, dengan demikian aspek sosio budaya
yang berkaitan dengan kelahiran bayi sejak dari perkembangan janin dalam
kandungan ibu sampai masa nifas merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam
upaya pelayanan kesehatan bagi bayi dan ibunya.
II.3 Kemitraan Dukun Bayi dan Bidan
Di Indonesia istilah kemitraan Dukun Bayi dan Bidan masih relatif
baru, namun demikian praktiknya dimasyarakat sebenarnya sudah terjadi sejak jaman terdahulu. Sejak nenek moyang,
kita telah mengenal istilah gontong royong yang sebenarnya esensinya kemitraan.
Sebab melalui kerja sama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun
kelompok, mereka membangun jalan, jembatan, balai desa, pengairan, dan
sebagainya(Notoadmojo,
2010).
Peranan dukun bayi di masyarakat dalam menolong seorang ibu
selamamasa kehamilan, persalinan dan sesudah persalinan berkaitan sangat erat
dengan budaya dan kebiasaan setempat.Dukun bayi kebanyakan merupakan orang yang
cukup dikenal di desa, dihormati, dianggap sebagai orang tua yang dapat
dipercaya, dan sudah berpengalaman (Wendy, 2014).
Istilah- istilah ini sebenarnya perwujudan dari kerja sama
antara individu atau kelompok yang saling membantu, saling menguntungkan dan
bersama-sama untuk meningkatkan pencapaian suatu tujuan yang telah mereka
sepakati bersama. Kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara
individu-individu, kelompo-kelompok, atau organisasi-organisasi untuk mencapai
suatu tugas atau tujuan tertentu seperti bidan dan dukun bayi (Notoadmojo,
2007).
Selain melakukan perawatan kehamilan, menolong persalinan, serta
merawat ibu dan bayinya sesudah persalinan, dukun bayi umumnya dipercaya dapat
memberikan kekuatan spiritual melalui doa-doa, mantra, dan ritual-ritual adat
yang dilakukannya, sehingga memberikan rasa nyaman dan aman pada ibu yang akan
melahirkan (Wendy, 2014).
Dalam kerja sama tersebut ada kesepakatan tentang komitmen
dan harapan masing-masing, tentang peninjauan kembali terhadap
kesepakatan-kesepakatan yang telah di buat, dan saling berbagi, baik dalam
resiko maupun keuntungan yang diperoleh. Dari batasan ini terdapat tiga kata
kunci dalam kemitraan, yakni:
a) Kerja sama antara
kelompok, organisasi, individu
b) Bersama-sama mencapai
tujuan trtentu (yang di sepakati bersama)
c) Saling menanggung
risiko dan keuntungan (Notoadmojo,
2011).
Kemudian gontong royong sebagai peraktek
“kemitraan individual” ini berkembang menjadi koperasi, koalisi, aliansi,
jejaring, dan sebagainya. Praktiknya kemitraan bidan dan dukun sudah lama tapi
relatif masih baru bagi bidan dan dukun bayi, sejak nenek moyang kita mengenali
gontong royong sebenarnya adalah kemitraan. Seseorang yang membantu proses
persalinan dan perawatan terhadap bayi dan ibu pasca melahirkan adalah, Orang
yang harus mengetahui tentang segala macam upacara, sajian serta mantera, dan
harus memiliki pengetahuan mengenai jamujamu untuk merawat bayi yang baru lahir
serta ibunya.
Dukun bayi dipanggil untuk menolong
kelahiran dan disamping berlaku sebagai seorang bidan, dukun bayi merupakan
orang yang ahli dalam ilmu gaib. Peran dukun bayi terlihat sangat penting
ketika ia mempertahankan seorang bayi dan ibunya dari bahaya-bahaya gaib yang
mungkin akan menimpa mereka, dengan menggunakan keahlian dibidangnya yang
menggunakan cara dan ilmu gaib.33 Bidan, tentu tidak memiliki keahlian magis
seperti halnya keahlian dukun bayi (paraji) selain keahliannya yang secara medis.
Kerja sama adalah sebuah kemitraan antara
dukun dan bidan di desa kamboja saling membantu dalam meningkatkan kesehatan
ibu dan anak, bersama-sama dalam menolong persalinan agar supaya tidak terjadi
kecelakaan yang tidak di inginkan terhadap ibu dan anak yang dilahirkan.
Peran dukun bayi dalam memberikan perawatan
kepada bayi dan ibu, dukun bayi juga memberikan asuhan keperawatan kepada ibu
dan bayi baik sebelum ataupun sesudah melahirkan. Asuhan keperawatan adalah
suatu proses rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang langsung
diberikan kepada klien atau pasien yang sesuai dengan latar belakang budayanya,
pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan.
Mengingat kemitraan adalah bentuk kerja sama atau aliansi, maka
setiap pihak yang terlibat di dalamnya harus ada kerelaan diri untuk bekerja
sama, dan melepaskan kepentingan masing-masing, kemudian membangun kerja sama,
dan melepaskan kepentinagan masing-masing, kemudian membangun kepentiangan
bersama dalam menagani atau menolong persalinan di
wilayah kerja Puskesmas Kamboja Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara.
II.4 Peran Dukun dalam Kemitraan
Fungsi utama kemitraan adalah upaya preventif dan promotif dan
hal itu merupakan satu kesatuan dari peran bidan, dukun bayi dan kader
posyandu.Kemitraan sangat terkait dengan keterlibatan seluruh dukun bayi yang
ada di desa/kelurahaan maupun kecamatan. Jika terdapat satu atau beberapa orang
dukun bayi yang tidak ingin bermitra
akan sangat berpotensi ‘mengganggu’ kemitraan yang telah terjadi. Pemantauan
dan penilaian atas hal tersebut juga penting dilakukan (Wendy, 2014).
Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan
sesuai fungsi kolaburasi dengan melibatkan dukun bayi dan keluarga yang
mendampingi ibu melahirkan atau persalinan, sesuai dengan uraian diatas
tersebut, sudah jelas bahwa bidan adalah
jabatan fropesional dalam menolong persalinan dengan mengacu pada Permenkes 572
Tahun 1996 tentang Praktek Bidan dan memperhatikan kompetensi bidan (Mustika,
2006).
Masih banyaknya pengguna jasa dukun disebabkan beberapa faktor
yaitu lebih mudahnya pelayanan dukun bayi, terjangkau oleh masyarakat baik
dalam jangkauan jarak, ekonomi atau lebih dekat secara psikologi, bersedia
membantu keluarga dalam berbagai pekerjaan rumah tangga serta berperan sebagai penasehat
dalam melaksanakan berbagai upacara selamatan (Nuraeni, 2012)
Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada
dasarnya disebabkan karena beberapa alasan, antara lain dikenal secara dekat,
biaya murah, mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan
dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai 40 hari. Walaupun sudah
banyak dukun beranak yang dilatih, namun praktek-praktek tradisional tertentu
rnasih dilakukan (Khasanah, 2011).
Setyawati, 2010 mengemukakan bahwa dukun dipercaya sebagai aktor
lokal yang dipercaya oleh masyarakat sebagai tokoh kunci terutama yang
berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan. Pada kasus persalinan, dukun
tidak hanya berperan saat proses tersebut berlangsung, dari kehamilan sampai
juga pada saat upacara-upacara adat yang dipercaya membawa keselamatan bagi ibu
dan anaknya seperti upacara tujuhbulanan kehamilan sampai dengan 40 hari
setelah kelahiran bayi (Nuraeni, 2012).
Berdasarkan uraian tentang kemitraan bidan
dan dukung bayi maka dipandang perlu untuk mengkaji tentang peran dukun bayi
tentang kemitraan dengan Bidan di desa Kamboja memiliki kesamaan dan perbedaan
dalam menolong persalinan, bentukbentuk kemitraan antara dukun bayi dengan
Bidan Di desa dalam membangun kemitraan antara dukun bayi dengan Bidan di desa
Kamboja Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara.
Upaya yang dilakukan bidan dalam menjalin
kemitraan dengan dukun bayi, selama ini, yaitu cenderung dalam melakukan
pertolongan persalinan hadir bersamasama dalam membantu melakukan persalinan
bagi ibu-ibu yang melahirkan dengan mengacu pada Permenkes 572 Tahun 1996
tentang Praktek Bidan dan memperhatikan kompetensi bidan, proporsi sebesar 76
%, sedangkan dalam hal lain yang dilakukan yaitu melakukan bagi hasil dalam hal
ini antara bidan dan dukung kerjasama dalam bagi hasil (upah) sebesar 89 %, ini
membuktikan bahwa bidan dan dukun bayi sedah sebagian besar telah melakukan
kemitraan dengan baik.
Sosok dukun bayi bisa dimanfaatkan sebagai
agen of change dalam mengsosialisasikan kepada masyarakat tentang cara-cara
persalinan yang lebih aman seperti yang pernah dilihat secara langsung ketika
bersamaan hadir dalam persalinan, dengan pertimbangan bahwa dukun bayi itu
masih diterima oleh masyarakat, dekat dengan masyaraat, mudah dihubungi bahkan
tokoh masyarakat yang berpengaruh dalam komunitasnya, serta pengalamannya dalam
persalinan sudah dikenal dan diwariskan secara turun temurun.
kemitraan yang ditawarkan agar dapat
mengambil alih peran dukun bayi, maka ada pembatasan tugas yang harus diberikan
oleh dukun bayi, ketika keduanya hadir dalam suatu persalinan, baik diundang
oleh yang bersangkutan maupun karena panggilang dukun bayi. Bidan desa tidak
hanya memebri pengawasan kepada dukun bayi, tetapi bidan harus menunjukkan kelebihan
dan kemampuannya dalam menolong persalinan, terutama persalinan yang beresiko
bagi ibu hamil dan penyakit-penyakit yang dapat membawa kematian serta
menawarkan kepada ibu hamil harapan-harapan pelayanan yang lebih baik, cepat
dan tepat. Secara psikologis dukun bayi menganggap bahwa bidan desa memiliki
pengetahuan persalinan yang mereka tidak memilikinya, sehingga ada keraguan dan
ketakutan untuk melanjutkan kembali professinya.
Dukun Bayi adalah sosok yang selama ini
berperan melakukan pertolongan persalinan kadang tanpa pamrih, harus diberi
penghargaan yang selayaknya dengan pemberian pengobatan secara Cuma-Cuma
(bebas) baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit. Kesan yang timbul secara
psikologis bahwa mereka itu masih dapat diberdayakan menjadi agen of change
dalam mengkampanyekan program-program kesehatan pada umumnya, termasuk
didalamnya cikal bakal terbentuknya “Desa Siaga” dan kesehatan reproduksi
khususnya (pra kehamilan, kehamilan dan pasca kehamilan).
II.5
Faktor Keberhasilan dalam Kemitraan
Keberhasilan kemitraan bidan, dukun bayi dan kader posyandu
dapat dilihat dari tiga pertanyaan kunci tersebut.Rendahnya cakupan pemeriksaan
kehamilan K4 mengindikasikan peran kader posyandu dalam memberikan penyuluhan
kesehatan ibu masih perlu ditingkatkan. Demikian pula jika masih ditemukan
persalinan yang dilakukan oleh dukun bayi, hal ini mengindikasikan bahwa
komitmen dukun bayi untuk bermitra belum
optimal atau upaya kader posyandu menyadarkan masyarakat tentang persalinan
yang aman oleh tenaga kesehatan perlu ditingkatkan (Wendy, 2014).
Upaya kemitraan yang dilakukan Bidan Desa
agar dapat berjalan lancar dan berhasil dalam kemitraan, cukup bervariasi,
tetapi dominant melakukan kunjungan ke rumah dukun danbersamaan hadir dalam
persalinan. Upaya ini tetap memperhatikan situasi dan kondisi yang paling
memungkinkan untuk mendekati Dukun Bayi agar dapat diterima serta bermitra
kerja, melalui komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok untuk mendapat
respon positif pada saat ada pertemuan di tingkat desa, kesempatan berharga
untuk mengsosialisasikan kesehatan reproduksi dan praktek pertolongan
persalinan kepada tokoh-tokoh masyarakat, dan tokoh informal lainnya.
Keberhasilan persalinan ibu ditentukan oleh beberapa faktor,
yaitu mulai dari ada tidaknya faktor resiko kesehatan ibu, pengetahuan, status
ekonomi, adat-istiadat, keterjangkauan dan ketersediaan pelayanan kesehatan,
kemampuan penolong persalinan sampai sikap keluarga dalam menghadapi keadaan
gawat (Khasanah, 2011).
Menurut Green predisposising,
enabling dan reinforcing adalah faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan
individu.Presdisposising faktor
seperti keturunn, status ekonomi, adat-istiadat serta pengetahuan, enabaling
faktor seperti fasilitas kesehatan tidak terjangkau, reinforcing factor pemilihan
ibu dalam persalinan, peran petugas kesehatan, kemitraan (Priyoto, 2014).
1. Predisposing
factor (faktor predisposisi)
Karateristik Responden yaitu:
a)
Umur Ibu
Umur adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau
diadakan) (Tim Reality, 2008).Menurut Krisliani (2007 dalam Hutapea, 2012) umur ibu sangat menentukan kesehatan maternal
dan berkaitan erat dengan kondisi kehamilan, persalinan nifas serta dalam mengasuh
bayi. Ibu yang berumur kurang dari 20 tahun, belum matang dalam hal jasmani
maupun sosial dalam menghadapi kehamilan, persalinan dan nifas (Notoadmojo,
2007)
b)
Pendidikan
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara(Notoatmodjo, 2011).
1.
Pendidikan
dasar (SD,MI,SMP,MTs).
2.
Pendidikan
menengah (SMA, MA, SMK, MAK).
3.
Pendidikan
tinggi (Diploma, Sarjana, Magister, Spesialis, Doktor)
Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap
dan perilaku hidup sehat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan
seseorang untuk menyerap informasi dan mengimplementasikan dalam perilaku dan
gaya hidup sehari-hari sehingga dapat meningkatkan kemampuan mencegah penyakit,
meningkatkan kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya
(Notoatmodjo, 2012).
c)
Pekerjaan
Pekerjaan berasal dari kata dasar “kerja” yaitu sesuatu yang
dilakukan untuk mencari nafkah. “pekerja atau buruh adalah setiap orang yang
bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain(Notoatmodjo, 2007).
Berarti pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan seseorang untuk
mencapai tujuan tertentu misalnya mendapatkan upah atau imbalan.Penelitian yang
dilakukan oleh Pratiwi (2013) menyatakan bahwa responden yang bekerja
memanfaatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 88,1%, hal
ini berarti semakin tinggi pekerjaan maka semakin tinggi pemanfaatan
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan(Notoatmodjo, 2011).
d)
Pendapatan
Faktor pendapatan terkait erat dengan perilaku pencarian dan
pemilihan penolong persalinan. Semakin tinggi pendapatan seseorang akan lebih
mampu membiayai sarana dan prasarana untuk mendukung upaya hidup sehat,
termasuk upaya untuk memperoleh pertolongan persalinan yang aman. Berdasarkan
Penelitian oleh Besral (2006), menyatakan bahwa semakin baik pendapatan
keluarga maka tenaga kesehatan cenderung dipilih sebagai penolong persalinan
(Rusnawati, 2012).
e)
Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2012) pengetahuan merupakan hasil dari tahu
dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek
tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour)(Notoatmodjo, 2012).
Tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif mempunyai enam
tingkatan, yaitu:
a.
Tahu (know)
b.
Memahami (comprehension)
c.
Aplikasi (application)
d.
Analisis (analysis)
e.
Sintesis (synthesis)
f.
Evaluasi (evaluation)
Berdasarkan sebuah konsep perilaku “K-A-P” (Knowledge, Attitude, Practice) menjelaskan bahwa perilaku seseorang
(misalnya perilaku ibu hamil terhadap pemilihan penolong persalinan) sangat
dipengaruhi oleh sikapnya yang mendukung terhadap anjuran melakukan pertolongan
persalinan pada tenaga kesehatan.Sikap (attitude)
dipengaruhi oleh pengetahuan (knowledge)
tentang sesuatu (misalnya pengetahuan manfaat melakukan pertolongan persalinan
pada tenaga kesehatan (Notoatmodjo, 2012).
f)
Budaya/adat-istiadat
Dalam hal ini unsur-unsur
budaya dari deretan merupakan unsur yang lebih sukar berubah jika
dibandingkan dengan unsur-unsur yang disebut kemudian dideretan bawah. Tetapi
hal ini dalam garis besarnya saja karena ada kalanya sub-sub unsur dari suatu
unsure lebih sukar diubah bila dibandingkan dari sub unsur dari suatu unsur
yang tercantum diatasnya. Selanjutnya dalam Notoadmojo, 2010 menjelaskan, bahwa
kebudayaan paling sedikit mempunyai 3 wujut yaitu:
a.
Tata
kelakuan
b.
Kompleks
aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat
c.
Sebagai
benda hasil karya manusia
Kebiasaan adat-istiadat yang sudah membudaya tapi merugikan
kebiasaan ibu hamil, tenaga kesehatan harus dapat menyikapi hal ini degan
bijaksana, jangan sampai menyinggung “Kearifan lokal” yang sudah berlaku
didaerah tersebut.Penyampaian mengenai pengaruh adat mengunakan
berbagai teknik yang tidak menyinggung, misalnya melalui media masa, pendekatan
tokoh masyarakat, jika kita menemukan adat-istiadat atau budaya yang tidak
berpengaruh terhadap kesehatan (Nurul, 2012).
Petugas kesehatan tentunya perlu mempelajari budaya masyarakat
dimana mereka bekerja. Beberapa konsep untuk mempelajari kebudayaan
suatumasyarakat menurut Koentjaningrat 1996 dalam notoadmojo, 2010 adalah:
a.
Menghindari
sikap yang member penilaian tertentu kepada kebudayaan yang dipelajari.
Misalnya adanya sikap bahwa kebudayaan mereka sendiri yang paling baik.
b.
Masyarakat
yang hidup didalam kebudayaan sendiri biasanya biasanya tidak menyadari
memiliki kebudayaan, kecuali apabila mereka memasuki masyarakat lain dan
bergaul dengan masyarakat lain itu.
c.
Terdapatnya
variabilitas didalam perubahan kebudayaan, atau unsure kebudayaan yang satu
akan lebih sukar burubah apabila dibandingkan debgan unsure kebudayaan lain.
d.
Unsur
kebudayaan saling kait mengait, (Notoadmojo, 2010).
g) Satus Ekonomi
Tingkat ekonomi sangat terbukti
berpengaruh terhadap kondisikesehatanfisik dan fisiologis ibu hamil, ibu hamil
yang lebih tinggi social ekonominya maka ibu lebih fokus mempersiapkan fisik
dan mentalnya sebagai seorang ibu. Sementara ibu hamil yang lebih rendah
ekonominya maka ia akan mendapatkan banyak kesulitan (Nurul, 2012).
Jika kita menemukan adat istiadat yang
sama sekali tidak berpengaruh buruk terhadap kesehatan, tidak ada salahnya jika memberikan respons
yang positif dalam rangka menjalin hubungan yang sinergis dengan dukun branak sehingga Desa Kamboja menjadi
Desa yang berbudaya lokal untuk menarik simpatik masyarakat pendatang, adat
istiadat atau budaya ini harus dilestarikan sehingga tidak punah bagi remaja
atau ibu yang baru pertama melahirkan, (Janah, 2012).
Tidak bermaknanya hubungan antara keyakinan
terhadap pemilihan penolong persalinan jika dikaitkan dengan teori Rosenstock
tersebut sangat mungkin disebabkan oleh persepsi yang berbeda-beda pada seetiap
orang. Sehingga ada responden yang beranggapan istrinya lebih aman dan terjamin
keselamatannya apabila melahirkan dibantu tenaga profesional (nakes) dan sebaliknya ada yang cenderung
memilih dukun bayi (Sodikin, 2009).
2. Enabaling factor (faktor pendukung),
1. Pelayanan
Kesehatan Dasar tidak terjangkau.
Pelayanan
Kesehatan Dasar atau pelayan persalinan upaya pelayanan keseahatan dasar
merupakan langkah awal yang penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat.Dengan pelayan kehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan
sebagian besar masalah kesehatan dapat teratasi.Sebagaimana gangguan keseahatn
yang di alami seorang ibu yang
sedang hamil biasa berpengaruh
pada kesehatan janin dikandung, saat kelahiran dan masa pertumbuhan anaknya
(Janah, 2012).
2. Reinforcing factor(Faktor
pendorong) ada 3 yaitu :
a. Pemilihan
ibu dalam persalinan
Hal inilah
yang menyebabkan ibu memilih dukun bayi dalam bersalin dikarenakan dukun
memiliki tempat yang terhormat dan memilih kepercayaan lokal yang jauh lebih
tinggi dari pada bidan.Dukun dipercayai memiliki kemampuan yang diwariskan
turun-temurun untuk memediasi pertolongan medis dalam masyarakat.Sebagian dari
mereka juga memperoleh citra sebagai “orang tua” yang telah “berpengalaman”
(Jahidin, 2012).
b. Peran
Petugas Kesehatan
Peran bidan
sebagai pelaksana, bidan mempunyai kategori tugas yaitu:
a. Menetapkan
manajemin kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan:
1). Mengkaji status
kesehatan untuk memenuhi kebutuhan asuhan.
2). Menentukan diagnose
3). Menyusu rencana
tindakan sesuai dengan maslah yang dihadapi.
4). Melaksanakan tindakan
sesuai dengan rencana yang disusun.
5). Mengevaluasi tindakan
yang telah diberikan.
6). Membuat rencana
tindak lanjut kegiatan
7). Membuat catatan dan
laporan kegiatan (Ruslidjah, 2006).
c. Kemitraan
Mengingat
kemitraan adalah bentuk kerjasama atau aliansi, maka setiap pihak yang terlibat
di dalamnya harus ada kerelaan diri untuk bekerjasama, dan melepaskan
kepentingan masing-masing, kemudian membangun kerjasama, dan melepaskan
kepentinagan masing-masing, kemudian membangun kepentiangan bersama
(Notoadmojo, 2010)
II.6 Kerangka Teori
|
Kerja
sama antara kelompok, organisasi, individu
|
|
Mengantar calon ibu bersalin ke Bidan
|
|
Peran
Dukun Bayi di Indonesia
|
|
Memotivasi rujukan jika
diperlukan
|
|
Mendampingi ibu pada saat persalinan
|
|
Membantu bidan
membersihkan ibu, tempat dan alat setelah persalinan
|
|
Kemitraan
Dukun Bayi dan Bidan
|
|
Bersama-sama mencapai
tujuan trtentu (yang di sepakati bersama)
|
|
Mengingatkan keluarga menyiapkan alat transportasi
untuk pergi ke bidan ataumemanggil bidan
|
|
Mempersiapkan sarana prasarana persalinan aman
seperti air bersih dan kain bersih
|
|
Membantu bidan pada saat proses persalinan
|
|
Membantu bidan dalam
perawatan bayi baru lahir
|
|
Melakukan ritual keagamaan/tradisional yang
sehat yang sesuai tradisi setempat
|
|
Membantu ibu dalam inisiasi menyusui dini
kurang dari 1jam
|
|
Peran Dukun Bayi
|
|
Dukun bayi terlatih
|
|
Dukun bayi tidak terlatih
|
|
Persalinan
|
|
Predisposing factor (faktor
predisposisi)
|
|
Umur Ibu
|
|
Saling menanggung risiko dan keuntungan
|
|
Faktor
Keberhasilan dalam Kemitraan
|
|
Pendidikan
|
|
Pendapatan
|
|
Pekerjaan
|
|
Status ekonomi
|
|
Enabaling
factor (faktor pendukung)
|
|
Peran petugas kesehatan
|
|
Pemilihan ibu dalam persalinan
|
|
Reinforcing faktor (Faktor pendorong)
|
|
Pelayanan Kesehatan Dasar tidak terjangkau
|
|
Budaya/adat
|
|
Kemitraan
|
|
Pengetahuan
|
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL
3.1.
Kerangka
Konsep
Berdasarkan
tinjauan teori dan tujuan penelitian, penelitian ini mengacu pada kerangkateori
perilaku health belief model dengan kerangka konsep yang dilukiskan pada gambar
2.
|
Umur
|
|
Adat-istiadat
|
|
Pengetahuan
|
|
Pendapatan
|
|
Pekerjaan
|
|
Pendidikan
|
|
Status Ekonomi
|
|
Peran Dukun Bayi
|
Gambar 3.1: Kerangka Konsep Pemilihan Tenaga Penolong Persalinan
Berdasarkan Teori Health Beliefe Model
Gambar 3.1. Kerangka konsep
3.2
Variabel Penelitian
3.1.1.
Variabel Bebas
Variabel bebas adalah yang mempengaruhi
atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono,
2012). Variabel bebas penelitian ini adalah adalah umur, pendidikan, pekerjaan,
pendapatan, pengetahuan, adat istiadat/budaya dan status ekonomi di wilayah
Puskesmas Kamboja Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara .
3.2.2.
Variabel
Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012). Adapun
variabel terikatnya adalah peran dukun bayi.
3.3. Definisi operasional
Definisi Operasional
|
Definisi Operasional
|
Cara Ukur
|
Alat Ukur
|
Skala
|
Skala
|
|
|
Umur
|
Umuribu sangat menentukan kesehatan
maternal dan berkaitan dengan kondisisi kehamilan
|
Wawancara mendalam
|
Kuesioner
|
§ Baik
§ Kurang Baik
|
Ordinal
|
|
Pendidikan
|
Tingkat
pendidikan ibu sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup
sehat ibu
|
Wawancara mendalam
|
Kuesioner
|
§ Mendukung
§ Tidak Mendukung
|
Ordinal
|
|
Pekerjaan
|
Semakin tinggi pekerjaan maka semakin
tinggi pemmanfaatan penolong persalinan oleh tenaga kesehatan
|
Wawancara mendalam
|
Kuesioner
|
§ Memadai
§ Kurang memadai
|
Ordinal
|
|
Pendapatan
|
Semakin tinggi pendapatan seseorang akan
lebih mampu membiayai sarana dan prasarana untuk mendukun hidup sehat
|
Wawancara mendalam
|
Kuesioner
|
§ Memadai
§ Kurang memadai
|
Ordinal
|
|
Pengetahuan
|
Pemahaman dukun bayi tentang pengertianpersalinan
yang sehat
|
Wawancara
mendalam
|
Kuesioner
|
§ Baik
§ Kurang Baik
|
Ordinal
|
|
Adat-istiadat
|
Tangapan dukun bayi tentang
adat-istiadat terhadap bahaya persalinan dan dampak perilaku yang merugikan
kesehatan ibu hamil dan bersalin.
|
Wawancara
mendalam
|
Kuesioner
|
§ Mendukung
§ Tidak Mendukung
|
Ordinal
|
|
Status
ekonomi
|
Ekonomi masyarakat yang mempengaruhi
masyarakat tidak adanya uang untuk melahirkan
ke bidan atau puskesmas yang di lakukan dengan terbatasnya biaya melahirkan dengan dukun bayi.
|
Wawancara
|
Kuesioner
|
§ Memadai
§ Kurang memadai
|
Ordinal
|
3.4. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka
teori dan kerangka konsep tersebut, maka peneliti menggunakan rumusan hipotesis
kerja (Ha) dalam penelitian yaitu:
1.
Ada hubungan antara pengetahuan dukun
bayidalam peran dukun bayi dalam persalinan di wilayah Puskesmas
Kamboja Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara.
2.
Ada hubungan antara adat-istiadat/budayadalam menangani persalinan di
wilayah kerja Puskesmas Kamboja Kecamatan Pulau Maya Kabupaten
Kayong Utara.
3.
Ada hubungan antara status
ekonomimasyarakat terhadap pemilihan persalinan dengan dukun bayi di wilayah
kerja puskesmas kamboja Kabupaten Kayong Utara.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1
Desain Penelian
Desain penelitian ini adalah dengan menggunakan
pendekatan metode kualitatif, teknik yang dilakukan adalah wawancara mendalam
dan informan yang di pilih adalah dukun bayi. Pendekatan gambaran kualitatif
yang di maksud peneliti disini merupakan suatu bentuk penelitian yang mendeskripsikan peristiwa
atau kejadian, data kualitatif yang diperoleh disini
merupakan keseluruhan bahan, keterangan data fakta-fakta yang tidak dapat
diukur dan dihitung secara eksak matematis, tetapi hanya berwujud keterangan
naratif semata (Fardani, 2012).
Menggunakan metode kualitatif karena
data yang diteliti berupa kata kata tertulis atau lisan bukan perhitungan matematis,
sehingga hasil penelitian tentang suatu hal
yang dimaksud diharapkan dapat terungkap secara jelas dan mendalam mengenai
Gambaran Peran Dukun Bayi Dalam Persalinan di
Wilayah Kerja Puskesmas Kamboja Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara.
4.2 Tempat dan waktu Penelitian
4.2.1
Tempat Penelitian
|
33
|
4.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian
dilaksanakan pada bulan Mei 2016.
4.3
Instrumen Penelitian
Dalam penelitian
kualitatif, yang menjadi instrumen penelitian atau alat penelitian adalah peneliti sendiri. Oleh karena itu
peneliti sebagai instrument juga harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti
kualitatif siap melakukan penelitianyang selanjutnya terjun kelapangan.Validasi
terhadap peneliti sebagai instrumen meliputi validasi terhadap pemahaman metode
kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti
untuk memasuki obyek penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya.Yang
melakukan validasi adalah peneliti sendiri, melalui evaluasi diri seberapa jauh
pemahaman terhadap metode kualitatif, penguasaan teori dan wawasan terhadap
bidany yang diteliti, serta kesiapan dan bekal memasuki lapangan (Sugiyono,
2014). Selain itu, peneliti juga mengunakan alat bantu untuk menunjang proses dalam penelitian, seperti handphon,
camera, dan perlengkapan alat tulis.
4.4
Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
4.4.1 Data Primer
Adapun data primer yang dikumpulkan mengunakan wawancara, yaitu
data tentang persalinan ibu melahirkan/responden berupa nama, umur, jenis kelamin,
budaya, Pendidikan, Pengetahuan, Sikap, Kepercayaan, keyakinan.
4.4.2 Data Sekunder
Adapun data sekunder dalam penelitian
ini diperoleh dari beberapa dokumen pencatatan bidan desa.Dalam penelitian
kualitatif, sampel sumber data dipilih secara purposive dan bersifat snowball sampling. Penentuan sampel
sumber data, pada proposal masih bersifat sementara, dan akan berkembang
setelah peneliti dilapangan. Sampel sumber data
pada tahap awal memasuki lapangan dipilih orang yang memiliki power dan
otoritas pada situasi social dan obyek yang diteliti, sehingga mampu
“membukakan pintu” kemana saja peneliti akan melakukan pengumpulan data.
4.5
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakanlangkah yang amatpentingserta data
yang digunakanharus valid.Teknikpengumpulan data
merupakanlangkah yang paling pentingdalampenelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono,
2008).
4.6
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam
penelitian kualitatif, teknik analisis data banyak dilakukan bersamaan dengan
pengumpulan data.Tahapan dalam penelitian kualitatif adalah tahap memasuki
lapangan dengan greand tour dan minitour question, analisis datanya
dengan analisis domain.Tahap dua adalah menentukan focus, teknik pengumpulan
data dengan minitour question,
analisis data dilakukan dengan analisis taksonomi.Selanjutnya pada tahap
selection, pertannyaan yang digunakan adalah pertanyaan structural, analisis
data dengan analisis kompenensial.Setelah analisis kompenensial dilanjutkan
analisis tema.
Jadi
analisis data kualitatif meneurut Miles and Huberman dilakukan secara
interaktif melalui proses data reduction, data display, dan verification.
Sedangkan menurut Spradley dilakukan secara berurutan, melalui peruses analisis
domain, taksonomi, kompenensial, dan tema budaya.
Patton (1980) dalam Mulyatiningsih,2014 menjelaskan bahwa analisis data dalam
penelitian kualitatif adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya
kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian. Sedangkan menurut Taylor dalam mulyaningsih 2014, analisis data adalah cara atau usaha untuk menemukan
jawaban dari masalah yang telah dirumuskan berdasarkan data penelitian.
4.7
Pengujian Keabsahan Data
Dalam Penelitian
Kualitatif, temuan data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan
antara yang dilaporkan dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang
diteliti.Untuk mendapatkan keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan
tehnik triangulasi, (Sugiyono, 2014).
4.
8 Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber untuk
menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah
diperoleh melalui beberapa sumber. Sebagai contoh, untuk menguji krediblitas
data tentang gaya kepemimpinan seseorang, maka pengumpulan data dan pengujian
data yang telah diperolehdilakukan kebawaan yang dipimpin, keatasan yang
mengawasi, dan keteman kerja yang merupakan kelompok kerja sama. Data dari
ketiga sumber tersebut, tidak bisa dirata-ratakan dalam seperti dalam
penelitian kuantitatif, tetapi di deskrifsikan, dikategorisasikan, mana
pandangan yang sama, yang berbeda, dan mana spesifik dari tiga sumber data
tersebut. Data yang telah dianalisis oleh peneliti hingga menghasilkan suatu
kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (member chcek) dengan tiga sumber data tersebut, (Sugiyono, 2008).
4.
9 Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan
dengan cara mengecek data pada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicetak dengan observasi,
dokumentasi, atau koesioner.Bila dengan tigateknik pengujian kredibilitas data
tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi
lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk
memastikan data yang mana dianggap benar.Atau mungkin semuanya benar, karena
sudut pandangnya berbeda-beda, (Sugiyono, 2014).
4.
10 Triangulasi Waktu
Waktu juga sering
mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara
di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan
memberikan data yang lebih Valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam
rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan wawancara, observasi
atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji
menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga
ditemukan kepastian datanya, (Sugiyono, 2010).
TERIMAKASIH